Home ENTERTAINMENT Terjawab Lewat Kalimat Ini, Alasan Dr Reisa Broto Asmoro Gantikan Achmad Yurianto...

Terjawab Lewat Kalimat Ini, Alasan Dr Reisa Broto Asmoro Gantikan Achmad Yurianto Akhirnya Terkuak

Loading...

SRIPOKU.COM – Senin (8/6/2020) muncul wajah baru di tim komunikasi yang bertugas untuk memberikan update kabar seputar penanganan wabah covid-19 di Indonesia tersebut.

Wajah itu tak lain tak bukan ialah sosok dokter Reisa Broto Asmoro yang kerap muncul di layar televisi.

Dalam siaran update virus corona yang digelar oleh Gugus Tugas Covid-19 pada pukul 15.30 WIB kemarin, tertulis keterangan bahwa dokter Reisa Broto Asmoro bertugas sebagai Tim Komunikasi Gugus Tugas Covid-19.

Belum ada keterangan pasti tentang alasan Puteri Indonesia 2010 ini didapuk menjadi bagian dari tim tersebut.

Dalam siaran kemarin, Reisa memberikan penjelasan umum terkait perkembangan covid-19.

Sedangkan Achmad Yurianto hanya mengumumkan jumlah kasus terkini terkait Covid-19 di Indonesia, baik kasus sembuh, meninggal, positif maupun jumlah tes harian.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan jelas terkait alasan di balik penunjukkan dokter Reisa.

Dikutip dari Kompas TV, Juru Bicara Pemerintah bidang kesehatan, Ahmad Yurianto mengelak memberi keterangan.

“Tolong ditanyakan ke timnya saja. Posisi saya Jubir pemerintah bukan tim komunikasi publik,” tandas Yuri.

Namun Yurianto memberi petunjuk singkat kemungkinan alasannya; “Edukasi masyarakat menjadi hal utama yang harus dilakukan”.

Dokter Reisa memang menjadi salah satu dokter yang kerap muncul di layar TV.

Ia menjadi host di salah satu acara talk show kesehatan keluarga di salah satu stasiun televisi swasta.

Kemunculan Reisa ini kemudian menjadi perbincangan warganet di Twitter ataupun Instagram.

Melalui Instagram Storynya, Reisa terlihat merepost sejumlah dukungan yang ia terima dari kerabat dan juga netizen.

Perempuan kelahiran Malang ini mengucapkan terima kasih atas dukungan dan berharap bisa berkontribusi lebih dalam usaha penanganan Covid-19 di Indonesia.

Jangan Gegabah dengan New Normal, Tetap Jauhi Tempat-tempat Ini, Risiko Ketularan Corona 100 Kali

Di sisi lain, Jangan gegabah dengan new normal atau situasi normal baru di tengah pandemi virus corona. Tetap jauhi-jauhi tempat-tempat ini yang disebut-sebut risiko penularan Covid-19 bisa 100 kali.

Pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan kehidupan baru atau new normal pasca Covid-19.

Sejumlah persiapan telah dilakukan Presiden Jokowi dalam menghadapi new normal.

Pemerintah sudah menyusun skenario tahapan untuk menerapkan new normal di Indonesia.

Tahapan ini guna memulihkan perekonomian yang sempat lumpuh saat pandemi Covid-19.

Seperti yang diketahui, skenario new normal tengah ramai diperbincangkan publik akhir-akhir ini.

Pemerintah disebut-sebut akan mulai membuka kembali bidang usaha dengan tetap menerapkan protokoler pencegahan terhadap virus corona.

Pemerintah pun tengah menggodok wacana pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna mendorong perbaikan kondisi ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Pelonggaran PSBB rencananya akan diterapkan pada Juni.

Saat Anda kembali beraktivitas, misalnya bekerja di kantor dan belajar di sekolah, bagaimana cara meminimalkan risiko terinfeksi virus corona?

Masih banyak hal yang belum diketahui ilmuwan terkait virus corona SARS-CoV-2 si penyebab Covid-19.

Namun, semakin banyak data tentang bagaimana virus menular dan bertahan di permukaan, dapat memandu kita bagaimana cara yang tepat saat mulai menjalani new normal nanti.

Satu hal penting yang harus diketahui terkait virus corona SARS-CoV-2, Anda kemungkinan besar tertular jika berdekatan dengan orang yang terinfeksi dalam waktu lama.

Risiko semakin besar jika Anda berada di ruang tertutup bersama dengan orang yang terinfeksi Covid-19.

Para peneliti dari Guangzhou, China, meneliti bagaimana virus corona berpindah dan menular di antara 347 orang.

Dalam studi yang terbit di medRxiv, studi ini menemukan bahwa risiko penularan virus di rumah atau kontak dengan orang terinfeksi, 10 kali lebih besar dibanding risiko penularan di rumah sakit, dan 100 kali lebih besar dibanding penularan di transportasi umum.

Lebih menyebar di tempat umum

Di luar rumah, sulit untuk menentukan peringkat risiko, karena kondisi lingkungan sangat beragam.

“Namun apa yang dapat kami katakan adalah, penyebaran SARS-CoV-2 cenderung lebih tinggi di tempat umum, di mana ada banyak orang yang melewati kawasan itu, kata Seema Jasim dari Pusat Penelitian Virus MRC-Universitas Glasgow, Inggris.

“(Penularan juga terjadi) di daerah yang sering dipegang orang.

Misalnya pegangan pintu, meja, keyboard komputer, dan lain-lain,” imbuh Jasim dilansir New Scientist, Rabu (27/5/2020).

Risiko tertular juga tampaknya lebih tinggi ketika orang lebih aktif secara fisik.

Investigasi terhadap sekelompok kasus di kota Cheonan, Korea Selatan, mengungkap bahwa delapan instruktur kebugaran terinfeksi virus corona setelah menghadiri lokakarya Zumba selama 4 jam.

Beberapa dari mereka kemudian memberikan kelas yang melibatkan latihan dengan intensitas tinggi di studio indoor berukuran kecil.

“Suasana lembab dan hangat, ditambah dengan aliran udara turbulen yang dihasilkan oleh latihan fisik yang intens dapat menyebabkan penularan,” tulis tim peneliti yang melakukan penelitian dan laporannya terbit di jurnal Emerging Infectious Diseases.

Namun, siswa yang mengikuti kelas yoga dan pilates di ruang sama tidak terinfeksi Covid-19.

Pencegahan

Cuci tangan secara teratur dan menyeluruh masih disarankan untuk mencegah penularan Covid-19.

Masih belum jelas berapa lama virus dapat bertahan dan tetap menular di permukaan, tetapi ini masih dianggap sebagai rute penularan yang signifikan.

“Jika permukaan telah terkontaminasi dengan tetesan dari orang yang terinfeksi,

mungkin ada cukup virus untuk menginfeksi seseorang yang menyentuh permukaan dan selanjutnya mentransfer virus ke mulut, hidung, mata atau wajah mereka,” kata Margaret Hosie, juga di MRC, Universitas Pusat Penelitian Virus Glasgow.

“Namun, jika mereka mencuci tangan dengan sabun dan air hangat selama minimal 20 detik, virus di tangan akan hancur.”

Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa mencuci tangan enam hingga 10 kali sehari dikaitkan dengan penurunan 36 persen dalam risiko terinfeksi virus corona.

Hal ini ada dalam laporan yang terbit di Wellcome Open Research.

Untuk diketahui, sabun membantu melarutkan virus.

Oleh sebab itu, jika hanya mencuci tangan dengan air tapi tidak menggunakan sabun, hal ini dianggap tidak efektif.

“Kemudian, menggosok tangan dengan alkohol memang dapat mencegah penularan.

Namun sebaiknya lakukan (dengan alkohol) jika tidak ada akses ke ke fasilitas cuci tangan, kata Hosie.

Artikel ini telah tayang di TribunStyle.com dengan judul TEKA-TEKI Mengapa Achmad Yurianto Diganti Dokter Reisa Broto Asmoro, Terungkap Lewat Kalimat Ini

Loading...